Home Jelajah Kisah Lagoa dan Haji Tjitra, Dua “Penguasa” Pelabuhan Tanjung Priok di Zamannya

Kisah Lagoa dan Haji Tjitra, Dua “Penguasa” Pelabuhan Tanjung Priok di Zamannya

126
0

NUJAKARTAUTARA.OR.ID-  Orang Jakarta Utara tidak asing dengan nama Lagoa, sebuah nama kelurahan di Kecamatan Koja, Kota Administrasi Jakarta Utara yang luasnya 157,99 hektare dan terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, bisa dibilang berhadap-hadapan. Nama Lagoa merupakan kosa kata bahasa Portugis yang dijadikan toponimi di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Lagoa merupakan kata dari bahasa Portugis untuk sebutan laguna, yaitu daerah perairan yang relatif dangkal dan sepi, terletak di lingkungan pesisir dan memiliki akses ke laut namun terpisah dari kondisi kelautan yang terbuka oleh penghalang berbentuk sandy atau shingly wave built, seperti gundukan pasir, pulau penghalang dan terumbu karang. Di setiap negeri-negeri bekas koloni Portugal atau Komunitas Negara-negara berbahasa Portugis yang disebut Comunidade dos Paises de Lingua Portuguesa (CPLP) seperti Brazil, Angola, Guinea Bissau, Mozambik, Sao Tome e Principe, Tanjung Verde dan Timor L’Este serta Guinea Khatulistiwa ditemukan nama toponimi Lagoa. Ini sebuah kewajaran sebab dimana Portugis berpijak terutama di daerah pesisir pantai, maka disitu akan ditemukan nama Lagoa.

Namun, tidak banyak orang Jakarta Utara yang tahu bahwa nama Lagoa selain merupakan nama tempat, toponimi, yang diberikan oleh Portugis, juga  merupakan nama seorang jagoan asal Bugis yang pernah menjadi “penguasa” di Pelabuhan Tanjung Priok dengan nama lengkap Labuang De Passore. Lagoa yang jagoan asal Bugis ini pernah berseteru dengan “penguasa” Pelabuhan Tanjung Priok lainnya, yaitu Haji Tjitra bin Kidang asal Banten yang kemudian berakhir dengan damai karena Lagoa dijadikan mantu oleh Haji Tjitra.

Kisah Lagoa ini terkait dengan keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok yang sejak zaman Belanda, selain sebagai lumbung ekonomi, Pelabuhan Tanjung Priok juga dikenal luas sebagai daerah onderwereld (dunia hitam). Segala macam latar belakang etnis memanfaatkan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai lumbung uang.

Walhasil, kawasan Pelabuhan Tanjung Priok erat hubungannya dengan perebutan kekuasaan para individu maupun kelompok. Dalam masa itu, salah satu jago yang menjadi penguasa Pelabuhan Priok dari media 1930-1950-an adalah Lagoa yang memiliki nama lengkap Labuang De Passore .

Di zamannya, sepak terjang Lagoa telah kesohor di seantero utara Jakarta. Satu sisi, Lagoa adalah tokoh masyarakat. Sisi lainnya Lagoa dikenal pula sebagai jago yang merangkap mandor Pelabuhan. Kehebatannya dalam bela diri silat menjadikannya Lagoa memiliki banyak pengikut, terutama mereka yang berdarah Bugis di Batavia.

“(Lagoa) Lelaki Bugis yang mempunyai nama besar sebagai orang yang paling disegani, menjadi salah satu penguasa ‘Onderwereld’ di Utara Kota Batavia/Jakarta pada tahun 1930 dan 1950-an. Namanya muncul dari sebutan penduduk di antara para jago dan jagoan di Pelabuhan Tanjung Priok, daerah ekonomi yang menjadi tempat ‘gula untuk semut’ sekaligus rendezvous bagi orang-orang yang memiliki nyali besar,” imbuh budayawan yang juga praktisi silat Betawi, GJ Nawi dalam buku Lagoa: Jejak Jago Bugis di Tanah Betawi (2018).

Kehebatan dari Lagoa, kata GJ Nawi tak lain karena dirinya yang seorang Bugis yag memegang erat nilai-nilai massompe (merantau). Yang mana, Massompe bagi orang Bugis dimaknai dengan proses mematangkan diri sembari mencari pengalaman untuk bekal hidupnya.

Berkat itu, tanah yang penuh kekerasan seperti Tanjung Priok dapat ditaklukkan. Lebih lagi, sebagai seorang Bugis memegang teguh istilah Siri’ na pesse yang berarti harus bertanggung jawab dan setia kawan.

Perihal tradisi massompe bukan cuma pepesan kosong belaka. Budayawan Bugis Feby Triadi melihat tradasi itu sebagai proses mematangkan diri. Jika diteropong dari segi budaya makna massompe di masa lalu itu sejalan dengan tradisi pelaut Bugis yang diharuskan memiliki banyak keahlian, seperti memperluas jaring persahabatan, keakraban, dan kekuasaan.

Bekal keahlian itu yang membuat orang bugis –termasuk Lagoa—dapat besar dan eksis di kampung orang. Apalagi, di zaman dulu orang yang melanggengkan Massompe turut membekali dirinya dengan ilmu lainnya, seperti memperdalam mammenca (pencak silat) dan paddissenggeng (ilmu kesaktian) seperti Lagoa.

“Ilmu ini (mammenca) hanya khusus untuk mereka yang mencarinya saja dan betul-betul ingin membekali diri, biasanya ini dilakukan sama orang yang memang ingin jadi jawara. Kalau paddissenggeng hampir semua orang Bugis tahu, orang yang belajar mammenca juga itu pasti sudah tahu betul apa yang dinamakan paddissengeng. Tapi kalau paddissengeng memang terbagi banyak, ada yang memang dipakai untuk kebal, keselamatan, jodoh, dan rezeki,” tutup Feby Triadi.

 

Perseteruan Lagoa dan Haji Tjitra di Priok

Perjalanan Lagoa dalam menjadi penguasa Pelabuhan Tanjung Priok tak mudah. Melansir laman Sejarah Jakarta, sering kali dalam tiap pertarungannya dirinya kewalahan melawan musuh-musuhnya.

Di samping itu, adapula sebagian dari musuhnya yang justru menjadi kawan. Seperti perjumpaan dengan Sera, seorang jago silat dari Bogor yang kemudian menjadi teman seperguruannya.

Setelahnya, perseteruan Lagoa dengan jago-jago lainnya terus berlanjut. Salah satu perseteruan yang paling dikenang adalah perseteruannya dengan seorang jago dari Banten Haji Tjitra bin Kidang.

Haji Tjitra dikenal sebagai jago yang sudah menjadi penguasa Pelabuhan Tanjung Priok dari 1920-an. Sebagai penguasa Pelabuhan Tanjung Priok, karena secara umum tidak ada penguasa tunggal dari latar belakang etnis dalam dunia kekerasan di kota Jakarta, keduanya selalu berseteru.

Penyebabnya, karena kedatangan Lagoa sering mengusik lumbung pendapatan Haji Tjitra. Dalam tiap perseteruan korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Puncaknya, berita perseteruan keduanya muncul dalam banyak surat kabar di Batavia, sampai-sampai tak ada yang meramalkan konflik itu akan berakhir. Namun, takdir berkata lain. Keduanya berdamai.

Puncak perdamaian itu ditandai dengan diangkatnya Lagoa sebagai menantu Haji Tjitra. Pernikahan itu pula yang menjembatani wujud persaudaraan dan perdamaian antara etnis Bugis dan Banten di Tanjung Priok. Boleh jadi keduanya telah berdamai. Kendati demikian gaung Tanjung Priok sebagai tempat cari makannya para jago masih bertahan, setidaknya hingga hari ini. (Sumber: VOA, Wikipedia, Sejarahjakarta.com, dll.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here